Sabtu, 02 Mei 2015

TOLAK REKLAMASI

REKLAMASI TELUK BENOA. Isu yang sangat menggoda dan semakin sexy. Pro dan kontra soal reklamasi ini semakin besar seiring waktu yang membawanya menggelinding liar dalam pertahanan dan cara masing-masing kelompok masyarakat yang pro dan kontra bertahan dengan tujuan masing-masing.
Adalah kelompok masyarakat yang katanya mendambakan efisiensi dalam akses menuju pusat kota, fasilitas yang baik dan lebih majunya pariwisata di Bali, terus merangsek untuk merealisasikan reklamasi Teluk Benoa. Atas nama pariwisata dan perbaikan kehidupan masyarakat di Benoa dan masyarakat Bali pada umumnya, reklamasi didengungkan pantas dan wajib direalisasikan. (begitu kabarnya). Kelompok pro reklamasi ini, (yang sudah tentu didalamnya banyak investor & orang-orang yang punya kepentingan di Bali) terus melakukan promosi tentang daratan impian mereka di teluk Benoa. Fasilitas lengkap, sekolah, rumah sakit bertaraf internasional, hunian yang nyaman, lokasi strategis, tempat hiburan dan lain sebagainya.. Sejauh ini yang terdengar, reklamasi Teluk Benoa menjanjikan penyelesaian masalah yang ada di Bali seperti halnya permasalahan sampah yang terjadi di kawasan hutan mangrove. Tapi apa iya permasalahan sampah akan selesai jika ada pulau-pulau baru hasil reklamasi? Yaaa, (katanya) sebagian  warga Bali percaya dengan hal tersebut dan mendukung. Padahal (menurut hemat saya) jika permasalahannya sampah, ya solusinya tata kelola sampah, bukan reklamasi... :p
Kelompok lainnya adalah mereka yang kontra dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. kelompok ini merupakan masyarakat Bali yang mencoba melindungi Bali terutama lingkungannya yang mulai rusak karena berbagai pembangunan yang mengatasnamakan urat nadi perekonomian masyarakat Bali. Mereka melihat dampak buruk dari rencana reklamasi Teluk Benoa terhadap lingkungan. dan untuk menanggulanginya mereka banyak menghabiskan waktu untuk mensosialisasikan hal tersebut melalui berbagai cara, seperti turun ke jalan, berorasi, melakukan kegiatan amal, turun tangan melakukan penghijauan di mangrove, membuat dan tandatangani petisi menggalang suara penolakan reklamasi dan lain sebagainya. Sebuah semangat yang (menurut saya) perlu diapresiasi. Karena ditengah kenikmatan dan hedonisme selera akan berbagai hal yang berbau kekinian, ternyata masih lumayan banyak yang mau peduli soal lingkungan, aspek yang di nomor sekiankan dalam urusan pembangunan modern.

Yaaa gara-gara si sexy ini, terjadi semacam perbedaan pandangan antara sesama masyarakat Bali...

"Saya pribadi tidak setuju dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurut saya, Reklamasi bukanlah solusi dari segala permasalahan yang disebutkan sebagai alasan pentingnya Reklamasi dilakukan. Justru menurut saya, reklamasi merupakan benih yang melahirkan lebih banyak masalah baru jika reklamasi Teluk Benoa terealisasi."

Dalam kasus Teluk Benoa, kata reklamasi merujuk pada pembuatan lahan atau daratan baru dari dasar laut. Daratan baru ini istilah kerennya landfill. Bayangkan luas wilayah laut di teluk Benoa yang akan di "urug" untuk menciptakan pulau baru. (Narasi pendek itu saja sudah terdengar seperti akan terjadi pemusnahan ... ya ga..?!)
Beberapa sumber yang sempat saya baca dan dengar, ada beberapa akibat yang ditimbulkan dari reklamasi Teluk Benoa. Salah satunya ialah permasalahan di habitat bawah laut. Ikan yang menjadi mata pencaharian nelayan, terumbu karang yang Bali jual sebagai daya tarik wisata dan habitat di kawasan bakau, mau dibawa kemana.?
Ketika pengurugan dilakukan, se-rapi apapun, pasir/partikel halus akan melayang di perairan. Pasir halus/partikel tersebut terbawa mengikuti arus air laut dan akan mengendap menutupi terumbu karang pada jalur yang dilewatinya. Pori-pori terumbu karang tertutup, lalu mati. Ikan yang tergantung dengan terumbu karang akan ikut mati karena tidak ada makanan atau pindah menjauh dari area tersebut (itu juga kalau sempat pindahan). Nelayan sekitar otomatis akan kesulitan dalam mencari ikan. Contoh : Coba lihat kondisi pulau serangan sekarang.... pinggiran pantainya dipenuhi oleh patahan terumbu karang mati. Keberadaan puing-puing terumbu karang di sana bukan karena "Nak Mule Keto", tapi hasil reklamasi (perluasan daratan) pada masa pemerintahan orde baru yang tidak dilanjutkan.
Selain itu sebagai muara beberapa sungai besar di Bali selatan Teluk Benoa juga memiliki posisi penting untuk menerima debit air yang mengalir, terlebih jika hujan. Tidak menutup kemungkinan banjir akan melanda kawasan Bali selatan. Jangan lupa juga dengan problem krisis air bersih. Di beberapa daerah di Bali krisis air tanah/ air bersih sudah mengancam....

Gubernur Bali yang mendukung dan rajin menyampaikan reklamasi penting untuk kemajuan pariwisata Bali tampaknya tidak bergeming dengan potensi kerusakan yang dapat diakibatkan oleh reklamasi Teluk Benoa. Seolah-olah beliau mendambakan sekali sebuah pulau baru muncul di selatan Bali. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Dengan adanya pulau baru, (kabarnya) akan memenuhi kebutuhan masyarakat Bali karena (katanya lagi) DI AREA TERSEBUT AKAN DIBANGUN SEKOLAH YANG BAGUS, RUMAH SAKIT BERTARAF INTERNASIONAL, PERUMAHAN YANG BAGUS DENGAN LINGKUNGAN YANG BAIK dan bla bla bla....
Sedikit lucu menurut saya, ketika kita punya permasalahan mengenai Sekolah yang rusak atau Rumah sakit yang masih kurang baik di beberapa daerah di Bali, lalu kita diajak setuju dengan rencana Reklamasi (yang memiliki potensi membahayakan lingkungan) karena alasannya di area reklamasi itulah nanti dibangun sekolah yang baguuuss.... 
Yang rusak dan kurang layak saja belum beres malah mau bangun yang baru...!!! lucu pak.....
Kalau untuk masalah peningkatan pariwisata, yaa.. saya akui hal itu pasti akan berdampak besar. Seperti halnya yang dilakukan Dubai atau Singapura dengan strategi landfill berhiaskan arsitektur dan fasilitas megah. Tapi menurut saya wisatawan yang datang ke Bali bukan untuk kemewahan seperti itu, justru mereka datang karena budaya dan lingkungan yang alami. Perlu diingat juga Dubai dan Singapura tidak punya kecak, legong, adat, budaya dan agama se kompleks Bali..

Yaaa... sekali lagi saya tidak setuju dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Saya tidak yakin jika manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat Bali. Apalagi kalau menggandeng investor swasta.. asing pula... aduuhh.... Manfaat yang paling mentok adalah adanya lapangan kerja. Seperti yang sudah-sudah, kita masyarakat Bali ada di tataran pekerja saja. Kekuasaan ada di tangan-tangan besar dari luar sana..

OO YAA... saat menulis beberapa kalimat terakhir saya teringat dengan "putra daerah" yang duduk di jajaran DPRD & DPR apa semua setuju dengan reklamasi..?? Kenapa sepi sekali..?
Tidak BERNYALI...?? SUDAH DININA BOBOKAN..? ATAU MEMANG TIDAK PUNYA TARING LAGI SETELAH MENJABAT..?
"hahahahaha..... yayayaya.. cukup dulu.... jujur tulisan ini hanyalah isi unek-unek saya.. maafkan saya yang bodoh ini karena lancang menulis kalimat demi kalimat diatas... mari tersesat di dunia..."
SALAM


Sabtu, 07 Maret 2015

Tidak Akan Pernah "Sudah"

Hujan hari ini bercerita tentangmu. Kamu selalu mencari tempat sembunyi ketika gemuruh di langit. Jejak kaki di lantaiku tak terhitung.
Meski kita bertemu setelah menjalani sejumlah usia, aku paham, ada luka dan takut yang kau simpan dibalik senyum ketika ingin masuk tanpa mengetuk pintu.
 "Kau tidak sopan..!!" Kataku.
Tapi kau tak mau tau, dan melangkah masuk terburu-buru.
 "Ini hanya hujan air" Aku berujar sambil tersenyum. 
Lalu matamu menjelaskan bahwa tidak sesederhana itu. 
Hujan itu adalah belati bagimu. Sayup- sayup gemuruh di langit adalah  amarah masa lalu yang membuangmu.
Aku pernah menulis soal "menyudahi banyak kisah" dan ada banyak kisah yang harus aku (mungkin semua orang) selesaikan dalam hidup. Tapi tidak denganmu. Tidak akan ada kesudahan antara kamu dan aku. 
Terimakasih tidak akan cukup untuk kesabaran yang ku capai karenamu. Tidak ada harta yang pantas ditukar dengan persahabatan ini.
Yaaa kita tau.... tidak akan pernah "sudah"

Jumat, 06 Maret 2015

Menulis Rindu


Memulai hari dengan segumpal rindu
Aku menerawang keseluruh kamar pagi ini
belum beranjak ......
Sesak mememenuhi ruangku untuk bernafas
pagi yang sama setiap hari, begitu dan begitu lagi
Tak berkesudahan meski banyak kisah yang telah ku sudahi
Mungkin bersabar adalah jawabannya
Usaha adalah kiat, hingga bisa ku selesaikan kisah ini

Yaaa... aku hanya rindu rumah,
itu saja...

Minggu, 01 Maret 2015

Pulang Kandang Kali Ini...

Lalu hembusan angin memilih untuk berlalu, gesekan ranting yang tertiup terdengar menertawakan aku kali ini. Tidak seperti biasanya, perjalanan pulang ke kandang terasa sulit. 
"Apa ini..?" Bisik hati yang sudah tidak sejalan dengan perut kosong.
Aku mendongak sambil tetap memegang kemudi. Berkali-kali.........
Cahaya lampu bertebaran menyilaukan didepanku. Deru mesin dan gas buangnya memusingkan, aku terjebak dikawanan kaumku yang birahi. Dan aku sendiri........
Hela nafas ku buang.. membujuk hati bersabar, menenangkan perut yang berontak.. 
Ku paksa otak untuk mencarikan jawaban atas semua ini..
Mata kembali awas ke sekililing..


oohh iya.... ini malam minggu, pantas macet seperti ini....

Kamis, 29 Januari 2015

Perlu Istirahat

17:34
Kombinasi angka itu yang aku lihat saat memutuskan beralih ke halaman blog. 
Tak terasa sudah 5 jam lebih
Aku putuskan untuk "sudah" .. Mata berair dan otakku mulai keram...
Apa aku yang tidak terbiasa..? 
Tidak... Aku hanya sedikit lelah...
Yang aku perlukan hanya sedikit tawa dan istirahat...
Terimakasih untuk cita-cita dan ambisi yang sudah mau berkenalan denganku..
Aku akan kembali lagi nanti.....

Minggu, 16 November 2014

Kepada Hujan... dari Tanah (yang dulu) kering

Senyumku tak bisa terbendung... 
Aku senang kau datang, walaupun terlambat...
Walau keyakinanku sempat ditertawakan oleh burung, rumput bahkan ranting kering, 
aku tak ambil pusing..

Tahu kah kau... rinduku tak terhitung...
Tahukah kau.. rinduku tak terbatas.... iklas..

Terimakasih ....
Untuk sejuk yang tercipta setelah panas 
Untuk liuk pelangi ketika kau berlalu
dan rekahan yang perlahan terobati

Ku tahu ini akan berlalu... 
semua tahu....
ketika saat itu tiba... akan ada alasan untuk merindukanmu
lagi.....


Sabtu, 08 November 2014

Untuk yang (sudah) Merasa Nyaman dan Terwakili oleh Ikon

Lagi seru ini.... Sudah untuk kesekian kalinya saya melihat postingan tentang Mentri Kelautan dan Perikanan kita yang baru, Ibu Susi Pudjiastuti. Sejak pengumuman kabinet oleh presiden, Ibu Susi memang paling banyak mendapat sorotan. Mulai dari style yang nyantai, merokok, punya tatto, hingga background pendidikannya yang katanya tidak lulus SMA.  Cibiran dan tulisan-tulisan yang menyudutkan beliau banyak bermunculan di media sosial. " masak kita punya mentri ga lulus SMA....?" Kurang lebih begitu tulis salah seorang pengguna jejaring sosial facebook di bagian coment, link pemberitaan Ibu Susi. Ada pula yang menuliskan ketidaksetujuannya terhadap pilihan pak Jokowi, mengangkat Ibu Susi sebagai menteri karena dianggap tidak bisa apa2.

"ada yang pernah komentarnya senada dengan yang saya tulis diatas..??? haha..."

Tapi bukan media sosial namanya kalau tidak ada perlawanan yang mengunggkap sisi lain dari Ibu Susi ini. Banyak yang men-share link di jejaring sosial, terutama di facebook mengenai sosok beliau. Siapa sebenarnya Ibu Susi ini..? Dari beberapa fakta, pemberitaan dan komentar-komentar dari mereka yang pro Susi saya menemukan bahwa Ibu susi ialah sosok yang tidak segan dalam melakukan tugasnya (artinya : bukan tukang perintah saja), berpengalaman dalam perikanan, punya sejumlah pesawat yang siap digunakan untuk membantu nelayan mendistribusikan hasil tangkapan ikan mereka, berjiwa sosial dan lain sebagainya....."Beliau adalah orang pertama yang membawa bantuan ke Aceh dengan pesawat cesna pribadinya ketika sunami melanda, beliau adalah orang yang memajukan kehidupan para nelayan di Indonesia. Jadi ketika orang-orang berpendidikan tinggi cuma bisa menangis didepan TV menonton situasi di aceh, wanita lulusan SMP ini sudah bergerak memberikan bantuan langsung untuk para korban". Begitu tulisan salah seorang pengguna jejaring sosial facebook menanggapi komentar miring yang ditujukan pada Ibu Susi.


"Oke sampai di sini.... ada yang pernah melihat dan memberikan tanggapan serupa...?? hhmmm...".

Yaaa... begitulah Ibu Susi, banyak yang menyoroti beliau belakangan ini. Kalian bisa lihat di berbagai media sosial bagaimana kehebohan berita yang kontra dan pro Ibu Susi (silahkan cari sendiri).Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas Ibu Susi, karena yang mebahas dan memberitakan beliau sudah banyak. Saya lebih tertarik dengan mereka yang melakukan "share link"  di facebook. Setelah muncul keraguan dari pihak-pihak tertentu akan kemampuan Ibu Susi terkait latar belakang beliau yang hanya lulusan SMP, bertatto, terlihat urakan, merokok dan lain sebagainya, muncul tandingan yang menggungkap kedermawanan Ibu Susi, jasa-jasa serta segala hal yang telah dilakukan Ibu Susi dalam membangun bangsa lengkap dengan prestasi-prestasi beliau. Hal ini mematahkan anggapan bahwa apa yang terlihat dari Ibu Susi pada tampilan luar, tidak seperti yang orang-orang kira.... 

"laaaaaluuuuu......, kalimat " dont judge the book by its cover" (atau yang senada) jadi sering digunakan..."

Kalimat tersebut kerap ditulis mengawali komentar di facebook. Ada yang menulis "jangan memandang orang dari penampilan aja, nih buktinya...”, lalu ada juga yang menulis  “Jangan menganggap orang yang bertatto dan urakan ga bisa apa-apa..”, dan ada juga yang menulis : “ Jangan memandang remeh kami yang bertatto dan terlihat urakan..” dan masih banyak lagi.........Yaa... ini yang mau sedikit saya nyinyir-i... Dengan men-share link mengenai kebaikan / prestasi seorang Susi Pudjiastuti yang kebetulan tampilan luarnya nyeleneh, punya tatto dan terlihat nyantai (banget)..., mereka, anak muda/tua/labil/abegeh/dan semua yang (merasa) punya kesamaan penampilan dan gaya dengan Ibu Susi, seolah-olah mendapat payung dari hujan cibiran dan tanggapan miring soal tatto dan gaya hidup mereka selama ini. Ibu Susi menjadi (dijadikan) ikon “orang berpenampilan urakan tidak boleh diremehkan”.

Saya pribadi melihat postingan kalimat-kalimat tersebut diatas seperti teriakan bahagia ketika melihat titik cahaya dalam ketersesatan di dalam gua yang gelap (hahahaha bahasamu cuuuuukk...). Selamat ketika ada sosok Ibu Susi yang tampak nyeleneh, bertatto dan lain sebagainya, namun berprestasi dan bisa jadi mentri.Siapa yang ingin diremehkan..?? sudah pasti tidak ada.. Tapi terkait dengan ramainya kalimat “ jangan menilai buku dari kovernya”. Harusnya si buku ini membuktikan bahwa isinya memang bagus walaupun covernya sobek, ketumpahan tinta, atau sudah dikencingi tikus berkali-kali, bukannya membentengi diri dengan buku usang lain yang sudah terbukti bagus.PEMBUKTIAN itu yang saya maksud....
Kalau kalian seorang yang punya tatto lalu menshare prestasi Ibu Susi. Karena (merasa) punya kesamaan memiliki tatto, kalian menulis : “jangan meremehkan orang bertatto”, lalu kalian merasa terwakili oleh Ibu Susi dan kalian merasa save.., keliru...!! Kalau kalian tidak lulus SMA, lalu men-share prestasi Ibu Susi. Karena (merasa) punya kesamaan tidak lulus SMA, kalian menulis “jangan meremehkan orang berpendidikan rendah”, lalu kalian merasa terwakili oleh Ibu Susi dan kalian sudah merasa save.... keliruuu...!!
Kalian bertatto karena ikut-ikutan atau memang paham esensi dari tatto itu sendiri? Kalian tidak lanjut sekolah karena ga ada biaya, keadaan atau karena malas..????Bedakan......
Sebagaimanapun hebatnya Ibu Susi kedepannya ketika kalian yang bertatto, yang ga sekolah tinggi, yang urakan, dan sebagainya, tapi kalian hanya diam dan cukup merasa terwakili dengan keberadaan Ibu Susi, yaaaaa.... kalian ga akan ikut jadi hebat...Saya menulis ini bukan karena saya benci orang bertatto, atau mereka yang urakan... Saya tidak beda jauh kok dari hal-hal tersebut. Tulisan ini semata-mata hanya mengajak untuk lebih terbelalak, bahwa tidak cukup hanya dengan ikon/simbol perwakilan dari satu orang saja untuk menjadi dihargai, tapi sangat dibutuhkan usaha dari pribadi untuk pembuktian bahwa semua orang punya kesempatan, hak dan kewajiban berusaha, untuk bisa dihargai. Silahkan saja menulis kalimat " dont judge the book by its cover" (atau yang punya kesamaan makna) dengan menggunakan bahasa Indonesia, Belanda, Prancis, ataupun bahasa mars.. terserah..!!!! Tapi jangan berhenti sampai itu saja, jangan jadikan kalimat itu sebagai kalimat penghibur diri ketika sadar bahwa kamu seperti buku usang... Bergerak dan buktikan bahwa kamu, kamu, kamu kalian dan kita bisa lebih dari apa yang terlihat.....