REKLAMASI TELUK BENOA. Isu yang sangat menggoda dan semakin sexy. Pro dan kontra soal reklamasi ini semakin besar seiring waktu yang membawanya menggelinding liar dalam pertahanan dan cara masing-masing kelompok masyarakat yang pro dan kontra bertahan dengan tujuan masing-masing.
Adalah kelompok masyarakat yang katanya mendambakan efisiensi dalam akses menuju pusat kota, fasilitas yang baik dan lebih majunya pariwisata di Bali, terus merangsek untuk merealisasikan reklamasi Teluk Benoa. Atas nama pariwisata dan perbaikan kehidupan masyarakat di Benoa dan masyarakat Bali pada umumnya, reklamasi didengungkan pantas dan wajib direalisasikan. (begitu kabarnya). Kelompok pro reklamasi ini, (yang sudah tentu didalamnya banyak investor & orang-orang yang punya kepentingan di Bali) terus melakukan promosi tentang daratan impian mereka di teluk Benoa. Fasilitas lengkap, sekolah, rumah sakit bertaraf internasional, hunian yang nyaman, lokasi strategis, tempat hiburan dan lain sebagainya.. Sejauh ini yang terdengar, reklamasi Teluk Benoa menjanjikan penyelesaian masalah yang ada di Bali seperti halnya permasalahan sampah yang terjadi di kawasan hutan mangrove. Tapi apa iya permasalahan sampah akan selesai jika ada pulau-pulau baru hasil reklamasi? Yaaa, (katanya) sebagian warga Bali percaya dengan hal tersebut dan mendukung. Padahal (menurut hemat saya) jika permasalahannya sampah, ya solusinya tata kelola sampah, bukan reklamasi... :p
Kelompok lainnya adalah mereka yang kontra dengan rencana reklamasi
Teluk Benoa. kelompok ini merupakan masyarakat Bali yang mencoba melindungi Bali terutama lingkungannya yang mulai rusak karena berbagai pembangunan yang mengatasnamakan urat nadi perekonomian masyarakat Bali. Mereka melihat dampak
buruk dari rencana reklamasi Teluk Benoa terhadap lingkungan. dan untuk menanggulanginya mereka banyak menghabiskan waktu untuk mensosialisasikan hal tersebut melalui berbagai cara, seperti turun ke jalan, berorasi, melakukan kegiatan amal, turun tangan melakukan penghijauan di mangrove, membuat dan tandatangani petisi menggalang suara penolakan reklamasi dan lain sebagainya. Sebuah semangat yang (menurut saya) perlu diapresiasi. Karena ditengah kenikmatan dan hedonisme selera akan berbagai hal yang berbau kekinian, ternyata masih lumayan banyak yang mau peduli soal lingkungan, aspek yang di nomor sekiankan dalam urusan pembangunan modern.
Yaaa gara-gara si sexy ini, terjadi semacam perbedaan pandangan antara sesama masyarakat Bali...
Yaaa gara-gara si sexy ini, terjadi semacam perbedaan pandangan antara sesama masyarakat Bali...
"Saya pribadi tidak setuju dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Menurut saya, Reklamasi bukanlah solusi dari segala permasalahan yang disebutkan sebagai alasan pentingnya Reklamasi dilakukan. Justru menurut saya, reklamasi merupakan benih yang melahirkan lebih banyak masalah baru jika reklamasi Teluk Benoa terealisasi."
Dalam kasus Teluk Benoa, kata reklamasi merujuk pada pembuatan lahan atau daratan baru dari dasar laut. Daratan baru ini istilah kerennya landfill. Bayangkan luas wilayah laut di teluk Benoa yang akan di "urug" untuk menciptakan pulau baru. (Narasi pendek itu saja sudah terdengar seperti akan terjadi pemusnahan ... ya ga..?!)
Beberapa sumber yang sempat saya baca dan dengar, ada beberapa akibat yang ditimbulkan dari reklamasi Teluk Benoa. Salah satunya ialah permasalahan di habitat bawah laut. Ikan yang menjadi mata pencaharian nelayan, terumbu karang yang Bali jual sebagai daya tarik wisata dan habitat di kawasan bakau, mau dibawa kemana.?
Ketika pengurugan dilakukan, se-rapi apapun, pasir/partikel halus akan melayang di perairan. Pasir halus/partikel tersebut terbawa mengikuti arus air laut dan akan mengendap menutupi terumbu karang pada jalur yang dilewatinya. Pori-pori terumbu karang tertutup, lalu mati. Ikan yang tergantung dengan terumbu karang akan ikut mati karena tidak ada makanan atau pindah menjauh dari area tersebut (itu juga kalau sempat pindahan). Nelayan sekitar otomatis akan kesulitan dalam mencari ikan. Contoh : Coba lihat kondisi pulau serangan sekarang.... pinggiran pantainya dipenuhi oleh patahan terumbu karang mati. Keberadaan puing-puing terumbu karang di sana bukan karena "Nak Mule Keto", tapi hasil reklamasi (perluasan daratan) pada masa pemerintahan orde baru yang tidak dilanjutkan.
Selain itu sebagai muara beberapa sungai besar di Bali selatan Teluk Benoa juga memiliki posisi penting untuk menerima debit air yang mengalir, terlebih jika hujan. Tidak menutup kemungkinan banjir akan melanda kawasan Bali selatan. Jangan lupa juga dengan problem krisis air bersih. Di beberapa daerah di Bali krisis air tanah/ air bersih sudah mengancam....
Gubernur Bali yang mendukung dan rajin menyampaikan reklamasi penting untuk kemajuan pariwisata Bali tampaknya tidak bergeming dengan potensi kerusakan yang dapat diakibatkan oleh reklamasi Teluk Benoa. Seolah-olah beliau mendambakan sekali sebuah pulau baru muncul di selatan Bali. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Dengan adanya pulau baru, (kabarnya) akan memenuhi kebutuhan masyarakat Bali karena (katanya lagi) DI AREA TERSEBUT AKAN DIBANGUN SEKOLAH YANG BAGUS, RUMAH SAKIT BERTARAF INTERNASIONAL, PERUMAHAN YANG BAGUS DENGAN LINGKUNGAN YANG BAIK dan bla bla bla....
Sedikit lucu menurut saya, ketika kita punya permasalahan mengenai Sekolah yang rusak atau Rumah sakit yang masih kurang baik di beberapa daerah di Bali, lalu kita diajak setuju dengan rencana Reklamasi (yang memiliki potensi membahayakan lingkungan) karena alasannya di area reklamasi itulah nanti dibangun sekolah yang baguuuss....
Yang rusak dan kurang layak saja belum beres malah mau bangun yang baru...!!! lucu pak.....
Kalau untuk masalah peningkatan pariwisata, yaa.. saya akui hal itu pasti akan berdampak besar. Seperti halnya yang dilakukan Dubai atau Singapura dengan strategi landfill berhiaskan arsitektur dan fasilitas megah. Tapi menurut saya wisatawan yang datang ke Bali bukan untuk kemewahan seperti itu, justru mereka datang karena budaya dan lingkungan yang alami. Perlu diingat juga Dubai dan Singapura tidak punya kecak, legong, adat, budaya dan agama se kompleks Bali..
Yaaa... sekali lagi saya tidak setuju dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Saya tidak yakin jika manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat Bali. Apalagi kalau menggandeng investor swasta.. asing pula... aduuhh.... Manfaat yang paling mentok adalah adanya lapangan kerja. Seperti yang sudah-sudah, kita masyarakat Bali ada di tataran pekerja saja. Kekuasaan ada di tangan-tangan besar dari luar sana..
OO YAA... saat menulis beberapa kalimat terakhir saya teringat dengan "putra daerah" yang duduk di jajaran DPRD & DPR apa semua setuju dengan reklamasi..?? Kenapa sepi sekali..?
Tidak BERNYALI...?? SUDAH DININA BOBOKAN..? ATAU MEMANG TIDAK PUNYA TARING LAGI SETELAH MENJABAT..?
"hahahahaha..... yayayaya.. cukup dulu.... jujur tulisan ini hanyalah isi unek-unek saya.. maafkan saya yang bodoh ini karena lancang menulis kalimat demi kalimat diatas... mari tersesat di dunia..."
SALAM
Sedikit lucu menurut saya, ketika kita punya permasalahan mengenai Sekolah yang rusak atau Rumah sakit yang masih kurang baik di beberapa daerah di Bali, lalu kita diajak setuju dengan rencana Reklamasi (yang memiliki potensi membahayakan lingkungan) karena alasannya di area reklamasi itulah nanti dibangun sekolah yang baguuuss....
Yang rusak dan kurang layak saja belum beres malah mau bangun yang baru...!!! lucu pak.....
Kalau untuk masalah peningkatan pariwisata, yaa.. saya akui hal itu pasti akan berdampak besar. Seperti halnya yang dilakukan Dubai atau Singapura dengan strategi landfill berhiaskan arsitektur dan fasilitas megah. Tapi menurut saya wisatawan yang datang ke Bali bukan untuk kemewahan seperti itu, justru mereka datang karena budaya dan lingkungan yang alami. Perlu diingat juga Dubai dan Singapura tidak punya kecak, legong, adat, budaya dan agama se kompleks Bali..
Yaaa... sekali lagi saya tidak setuju dengan rencana reklamasi Teluk Benoa. Saya tidak yakin jika manfaatnya bisa dinikmati oleh masyarakat Bali. Apalagi kalau menggandeng investor swasta.. asing pula... aduuhh.... Manfaat yang paling mentok adalah adanya lapangan kerja. Seperti yang sudah-sudah, kita masyarakat Bali ada di tataran pekerja saja. Kekuasaan ada di tangan-tangan besar dari luar sana..
OO YAA... saat menulis beberapa kalimat terakhir saya teringat dengan "putra daerah" yang duduk di jajaran DPRD & DPR apa semua setuju dengan reklamasi..?? Kenapa sepi sekali..?
Tidak BERNYALI...?? SUDAH DININA BOBOKAN..? ATAU MEMANG TIDAK PUNYA TARING LAGI SETELAH MENJABAT..?
"hahahahaha..... yayayaya.. cukup dulu.... jujur tulisan ini hanyalah isi unek-unek saya.. maafkan saya yang bodoh ini karena lancang menulis kalimat demi kalimat diatas... mari tersesat di dunia..."
SALAM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar