Sabtu, 08 November 2014

Untuk yang (sudah) Merasa Nyaman dan Terwakili oleh Ikon

Lagi seru ini.... Sudah untuk kesekian kalinya saya melihat postingan tentang Mentri Kelautan dan Perikanan kita yang baru, Ibu Susi Pudjiastuti. Sejak pengumuman kabinet oleh presiden, Ibu Susi memang paling banyak mendapat sorotan. Mulai dari style yang nyantai, merokok, punya tatto, hingga background pendidikannya yang katanya tidak lulus SMA.  Cibiran dan tulisan-tulisan yang menyudutkan beliau banyak bermunculan di media sosial. " masak kita punya mentri ga lulus SMA....?" Kurang lebih begitu tulis salah seorang pengguna jejaring sosial facebook di bagian coment, link pemberitaan Ibu Susi. Ada pula yang menuliskan ketidaksetujuannya terhadap pilihan pak Jokowi, mengangkat Ibu Susi sebagai menteri karena dianggap tidak bisa apa2.

"ada yang pernah komentarnya senada dengan yang saya tulis diatas..??? haha..."

Tapi bukan media sosial namanya kalau tidak ada perlawanan yang mengunggkap sisi lain dari Ibu Susi ini. Banyak yang men-share link di jejaring sosial, terutama di facebook mengenai sosok beliau. Siapa sebenarnya Ibu Susi ini..? Dari beberapa fakta, pemberitaan dan komentar-komentar dari mereka yang pro Susi saya menemukan bahwa Ibu susi ialah sosok yang tidak segan dalam melakukan tugasnya (artinya : bukan tukang perintah saja), berpengalaman dalam perikanan, punya sejumlah pesawat yang siap digunakan untuk membantu nelayan mendistribusikan hasil tangkapan ikan mereka, berjiwa sosial dan lain sebagainya....."Beliau adalah orang pertama yang membawa bantuan ke Aceh dengan pesawat cesna pribadinya ketika sunami melanda, beliau adalah orang yang memajukan kehidupan para nelayan di Indonesia. Jadi ketika orang-orang berpendidikan tinggi cuma bisa menangis didepan TV menonton situasi di aceh, wanita lulusan SMP ini sudah bergerak memberikan bantuan langsung untuk para korban". Begitu tulisan salah seorang pengguna jejaring sosial facebook menanggapi komentar miring yang ditujukan pada Ibu Susi.


"Oke sampai di sini.... ada yang pernah melihat dan memberikan tanggapan serupa...?? hhmmm...".

Yaaa... begitulah Ibu Susi, banyak yang menyoroti beliau belakangan ini. Kalian bisa lihat di berbagai media sosial bagaimana kehebohan berita yang kontra dan pro Ibu Susi (silahkan cari sendiri).Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas Ibu Susi, karena yang mebahas dan memberitakan beliau sudah banyak. Saya lebih tertarik dengan mereka yang melakukan "share link"  di facebook. Setelah muncul keraguan dari pihak-pihak tertentu akan kemampuan Ibu Susi terkait latar belakang beliau yang hanya lulusan SMP, bertatto, terlihat urakan, merokok dan lain sebagainya, muncul tandingan yang menggungkap kedermawanan Ibu Susi, jasa-jasa serta segala hal yang telah dilakukan Ibu Susi dalam membangun bangsa lengkap dengan prestasi-prestasi beliau. Hal ini mematahkan anggapan bahwa apa yang terlihat dari Ibu Susi pada tampilan luar, tidak seperti yang orang-orang kira.... 

"laaaaaluuuuu......, kalimat " dont judge the book by its cover" (atau yang senada) jadi sering digunakan..."

Kalimat tersebut kerap ditulis mengawali komentar di facebook. Ada yang menulis "jangan memandang orang dari penampilan aja, nih buktinya...”, lalu ada juga yang menulis  “Jangan menganggap orang yang bertatto dan urakan ga bisa apa-apa..”, dan ada juga yang menulis : “ Jangan memandang remeh kami yang bertatto dan terlihat urakan..” dan masih banyak lagi.........Yaa... ini yang mau sedikit saya nyinyir-i... Dengan men-share link mengenai kebaikan / prestasi seorang Susi Pudjiastuti yang kebetulan tampilan luarnya nyeleneh, punya tatto dan terlihat nyantai (banget)..., mereka, anak muda/tua/labil/abegeh/dan semua yang (merasa) punya kesamaan penampilan dan gaya dengan Ibu Susi, seolah-olah mendapat payung dari hujan cibiran dan tanggapan miring soal tatto dan gaya hidup mereka selama ini. Ibu Susi menjadi (dijadikan) ikon “orang berpenampilan urakan tidak boleh diremehkan”.

Saya pribadi melihat postingan kalimat-kalimat tersebut diatas seperti teriakan bahagia ketika melihat titik cahaya dalam ketersesatan di dalam gua yang gelap (hahahaha bahasamu cuuuuukk...). Selamat ketika ada sosok Ibu Susi yang tampak nyeleneh, bertatto dan lain sebagainya, namun berprestasi dan bisa jadi mentri.Siapa yang ingin diremehkan..?? sudah pasti tidak ada.. Tapi terkait dengan ramainya kalimat “ jangan menilai buku dari kovernya”. Harusnya si buku ini membuktikan bahwa isinya memang bagus walaupun covernya sobek, ketumpahan tinta, atau sudah dikencingi tikus berkali-kali, bukannya membentengi diri dengan buku usang lain yang sudah terbukti bagus.PEMBUKTIAN itu yang saya maksud....
Kalau kalian seorang yang punya tatto lalu menshare prestasi Ibu Susi. Karena (merasa) punya kesamaan memiliki tatto, kalian menulis : “jangan meremehkan orang bertatto”, lalu kalian merasa terwakili oleh Ibu Susi dan kalian merasa save.., keliru...!! Kalau kalian tidak lulus SMA, lalu men-share prestasi Ibu Susi. Karena (merasa) punya kesamaan tidak lulus SMA, kalian menulis “jangan meremehkan orang berpendidikan rendah”, lalu kalian merasa terwakili oleh Ibu Susi dan kalian sudah merasa save.... keliruuu...!!
Kalian bertatto karena ikut-ikutan atau memang paham esensi dari tatto itu sendiri? Kalian tidak lanjut sekolah karena ga ada biaya, keadaan atau karena malas..????Bedakan......
Sebagaimanapun hebatnya Ibu Susi kedepannya ketika kalian yang bertatto, yang ga sekolah tinggi, yang urakan, dan sebagainya, tapi kalian hanya diam dan cukup merasa terwakili dengan keberadaan Ibu Susi, yaaaaa.... kalian ga akan ikut jadi hebat...Saya menulis ini bukan karena saya benci orang bertatto, atau mereka yang urakan... Saya tidak beda jauh kok dari hal-hal tersebut. Tulisan ini semata-mata hanya mengajak untuk lebih terbelalak, bahwa tidak cukup hanya dengan ikon/simbol perwakilan dari satu orang saja untuk menjadi dihargai, tapi sangat dibutuhkan usaha dari pribadi untuk pembuktian bahwa semua orang punya kesempatan, hak dan kewajiban berusaha, untuk bisa dihargai. Silahkan saja menulis kalimat " dont judge the book by its cover" (atau yang punya kesamaan makna) dengan menggunakan bahasa Indonesia, Belanda, Prancis, ataupun bahasa mars.. terserah..!!!! Tapi jangan berhenti sampai itu saja, jangan jadikan kalimat itu sebagai kalimat penghibur diri ketika sadar bahwa kamu seperti buku usang... Bergerak dan buktikan bahwa kamu, kamu, kamu kalian dan kita bisa lebih dari apa yang terlihat.....

Tidak ada komentar: