Lagi seru ini.... Sudah untuk kesekian
kalinya saya melihat postingan tentang Mentri Kelautan dan Perikanan kita yang
baru, Ibu Susi Pudjiastuti. Sejak pengumuman kabinet oleh presiden, Ibu Susi
memang paling banyak mendapat sorotan. Mulai dari style yang nyantai, merokok, punya
tatto, hingga background pendidikannya yang katanya tidak lulus
SMA. Cibiran dan tulisan-tulisan yang menyudutkan beliau banyak
bermunculan di media sosial. " masak kita punya mentri ga lulus
SMA....?" Kurang lebih begitu tulis salah seorang
pengguna jejaring sosial facebook di bagian coment, link pemberitaan Ibu
Susi. Ada pula yang menuliskan ketidaksetujuannya terhadap pilihan pak Jokowi,
mengangkat Ibu Susi sebagai menteri karena dianggap tidak bisa apa2.
Tapi bukan media sosial namanya kalau
tidak ada perlawanan yang mengunggkap sisi lain dari Ibu Susi ini. Banyak yang
men-share link di jejaring sosial, terutama di facebook mengenai
sosok beliau. Siapa sebenarnya Ibu Susi ini..? Dari beberapa fakta, pemberitaan
dan komentar-komentar dari mereka yang pro Susi saya menemukan bahwa Ibu susi
ialah sosok yang tidak segan dalam melakukan tugasnya (artinya : bukan tukang
perintah saja), berpengalaman dalam perikanan, punya sejumlah pesawat yang siap
digunakan untuk membantu nelayan mendistribusikan hasil tangkapan ikan mereka,
berjiwa sosial dan lain sebagainya....."Beliau adalah orang pertama yang
membawa bantuan ke Aceh dengan pesawat cesna pribadinya ketika sunami melanda,
beliau adalah orang yang memajukan kehidupan para nelayan di Indonesia. Jadi
ketika orang-orang berpendidikan tinggi cuma bisa menangis didepan TV menonton
situasi di aceh, wanita lulusan SMP ini sudah bergerak memberikan bantuan
langsung untuk para korban". Begitu tulisan salah seorang pengguna
jejaring sosial facebook menanggapi komentar miring yang
ditujukan pada Ibu Susi.
"Oke sampai di sini.... ada yang
pernah melihat dan memberikan tanggapan serupa...?? hhmmm...".
Yaaa... begitulah Ibu Susi, banyak yang
menyoroti beliau belakangan ini. Kalian bisa lihat di berbagai media sosial
bagaimana kehebohan berita yang kontra dan pro Ibu Susi (silahkan cari
sendiri).Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas
Ibu Susi, karena yang mebahas dan memberitakan beliau sudah banyak. Saya lebih
tertarik dengan mereka yang melakukan "share
link" di facebook. Setelah muncul keraguan dari pihak-pihak
tertentu akan kemampuan Ibu Susi terkait latar belakang beliau yang hanya
lulusan SMP, bertatto, terlihat urakan, merokok dan lain sebagainya, muncul
tandingan yang menggungkap kedermawanan Ibu Susi, jasa-jasa serta segala hal
yang telah dilakukan Ibu Susi dalam membangun bangsa lengkap dengan
prestasi-prestasi beliau. Hal ini mematahkan anggapan bahwa apa yang terlihat
dari Ibu Susi pada tampilan luar, tidak seperti yang orang-orang kira....
"laaaaaluuuuu......, kalimat " dont judge the book by its
cover" (atau yang senada) jadi
sering digunakan..."
Kalimat tersebut kerap ditulis mengawali
komentar di facebook. Ada yang menulis "jangan memandang orang dari penampilan
aja, nih buktinya...”, lalu ada juga yang menulis “Jangan menganggap orang yang
bertatto dan urakan ga bisa apa-apa..”, dan ada juga yang menulis : “ Jangan memandang remeh kami yang bertatto
dan terlihat urakan..” dan masih banyak lagi.........Yaa... ini yang mau sedikit saya nyinyir-i... Dengan men-share link
mengenai kebaikan / prestasi seorang Susi Pudjiastuti yang kebetulan tampilan
luarnya nyeleneh, punya tatto dan terlihat nyantai (banget)..., mereka, anak
muda/tua/labil/abegeh/dan semua yang (merasa) punya kesamaan penampilan dan
gaya dengan Ibu Susi, seolah-olah mendapat payung dari hujan cibiran dan
tanggapan miring soal tatto dan gaya hidup mereka selama ini. Ibu Susi menjadi
(dijadikan) ikon “orang berpenampilan
urakan tidak boleh diremehkan”.
Saya pribadi melihat postingan
kalimat-kalimat tersebut diatas seperti teriakan bahagia ketika melihat titik
cahaya dalam ketersesatan di dalam gua yang gelap (hahahaha bahasamu cuuuuukk...). Selamat ketika ada sosok Ibu Susi
yang tampak nyeleneh, bertatto dan lain sebagainya, namun berprestasi dan bisa
jadi mentri.Siapa yang ingin diremehkan..?? sudah
pasti tidak ada.. Tapi terkait dengan ramainya kalimat “ jangan menilai buku dari kovernya”. Harusnya si buku ini membuktikan
bahwa isinya memang bagus walaupun covernya sobek, ketumpahan tinta, atau sudah
dikencingi tikus berkali-kali, bukannya membentengi diri dengan buku usang lain
yang sudah terbukti bagus.PEMBUKTIAN itu yang saya maksud....
Kalau kalian seorang yang punya tatto lalu
menshare prestasi Ibu Susi. Karena (merasa) punya kesamaan memiliki tatto, kalian
menulis : “jangan meremehkan orang bertatto”,
lalu kalian merasa terwakili oleh Ibu Susi dan kalian merasa save.., keliru...!!
Kalau kalian tidak lulus SMA, lalu men-share prestasi Ibu Susi. Karena (merasa)
punya kesamaan tidak lulus SMA, kalian menulis “jangan meremehkan orang berpendidikan rendah”, lalu kalian merasa
terwakili oleh Ibu Susi dan kalian sudah merasa save.... keliruuu...!!
Kalian bertatto karena ikut-ikutan atau
memang paham esensi dari tatto itu sendiri? Kalian tidak lanjut sekolah karena
ga ada biaya, keadaan atau karena malas..????Bedakan......
Sebagaimanapun hebatnya Ibu Susi
kedepannya ketika kalian yang bertatto, yang ga sekolah tinggi, yang urakan,
dan sebagainya, tapi kalian hanya diam dan cukup merasa terwakili dengan keberadaan
Ibu Susi, yaaaaa.... kalian ga akan ikut jadi hebat...Saya menulis ini bukan karena saya benci
orang bertatto, atau mereka yang urakan... Saya tidak beda jauh kok dari hal-hal
tersebut. Tulisan ini semata-mata hanya mengajak untuk lebih terbelalak, bahwa
tidak cukup hanya dengan ikon/simbol perwakilan dari satu orang saja untuk
menjadi dihargai, tapi sangat dibutuhkan usaha dari pribadi untuk pembuktian
bahwa semua orang punya kesempatan, hak dan kewajiban berusaha, untuk bisa dihargai.
Silahkan saja menulis kalimat " dont judge the book by its cover" (atau yang punya kesamaan makna) dengan menggunakan bahasa Indonesia, Belanda,
Prancis, ataupun bahasa mars.. terserah..!!!! Tapi jangan berhenti sampai itu saja,
jangan jadikan kalimat itu sebagai kalimat penghibur diri ketika sadar bahwa
kamu seperti buku usang... Bergerak dan buktikan bahwa kamu, kamu, kamu kalian
dan kita bisa lebih dari apa yang terlihat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar