Rabu, 29 Oktober 2014

Eling, Rambu dalam Kebebasan Berbicara dan Sisa-Sisa Perhelatan Demokrasi pada Pengguna Socmed

Kurang lebih 2 tahun saya tidak pernah membuka blog pribadi saya ini. Sampai akhirnya 3 hari belakangan ini saya mulai log in lagi, utak atik sedikit dibeberapa bagian, lalu pagi ini ada keinginan untuk menulis lagi. Sebagai awal, saya ingin mengucapkan selamat dan rasa hormat yang sebesar-besarnya, prihal Presiden Indonesia yang baru dan “kabinet kerja” nya. Ucapan selamat dan hormat ini saya haturkan kepada semua orang yang tercatat sebagai Warga Negara Indonesia, yang mengikuti pemilu, yang menaruh perhatian terhadap gejolak politik blakangan ini, dan yang rajin berkomentar terhadap apa yang terjadi dari awal pemilu, hingga kabinet baru terbentuk. Melalui komentar di social media. But it’s OK..., itu menandakan proses demokrasi sedang berjalan ditengah kita. (dalam lingkup dunia maya).
Ada yang protes karena tidak suka, ada yang memprotes orang yang tidak suka, ada yang mencibir, ada yang mendukung, ada yang bijak, ada yang memihak. Semua itu adalah proses demokrasi. Untuk itu bersyukurlah, masih punya hak yang tidak dimiliki oleh semua negara. Dalam hal ini social media sangat berperan dalam memfasilitasi hak kita untuk berbicara (setidaknya itu yang terjadi dalam usia demokrasi kita yang masih sangat muda).
Yaaa..... Banyak suara kadang membuat kuping gerah maka dari itu mereka yang bersuara harus tau rambu juga. Sebelum berkomentar atau membicarakan sesuatu hendaknya pikir dulu, apakah komentar itu layak, bahasa yang digunakan tidak menyinggung dan pastikan komentar itu nyambung dengan topik. Ini sering terjadi di kalangan komentator social media. Misalkan saja, ada seseorang yang share link mengenai berita tokoh politik tertentu. Bermodalkan membaca judul link tersebut, ada yang sudah berani berkomentar dan memberi kesimpulan bahkan sekelas hipotesa. Atau karena berita tersebut dianggap tidak benar, seseorang memaki-maki orang yang men-share link  tersebut. Nah.. disilah rambu itu perlu digunakan. Rambu-rambu itu sudah kita miliki pada diri masing-masing, namun kadang kita lupa atau bahkan enggan untuk menggunakannya. Atau karena alasan emosi rambu itupun ditiadakan. Berbicara memang hak (hingga saat ini) tapi hak yang tak terarah justru akan memunculkan kerugian.
Maksud dan makna dari sebuah kalimat kadang bisa ditafsirkan berbeda dengan maksud si penulisnya di social media, maka sering terjadi kesalah pahaman, bertengkar di kolom komentar, dan akhirnya “unfriend” padahal tetanggaan.. (ada yang ngalamin?) Terlebih ketika masa pemilu lalu, tensi tinggi yang muncul dari kandidat yang kuat, pendukung yang banyak, beragam usia, beragam profesi, bermacam tingkat pendidikan, dengan pemahaman demokrasi yang sama, “muda”.Dilingkup dunia maya juga begitu, simpatisan, pendukung, lovers, hatters berkumpul disana. Mereka dari beragam daerah, bermacam profesi, berbagai tingkat pendidikan, namun sama didalam menggenggam social media, “muda”.Karena “muda”, maka sering berapi-api sehingga tidak sabaran atau tidak berfikir panjang. Maka dari itu marilah kita perlahan-lahan melangkah keatas, tidak lagi muda dalam menyikapi hal-hal seperti diatas, tapi berkembang untuk menjadi matang. Sehingga proses kebebasan bebicara mengisi demokrasi di social media lebih kondusif, tidak ada tali persaudaraan yang putus karena satu kalimat komentar menggigit, tidak ada tetangga yang berhenti bertegur sapa karena bertengkar mempertahankan pendapat tentang jagoan politiknya di kolom komentar social media.
Yaaahh, semoga bisa dilalui.. semua perlu proses dan proses berjalan ketika kita bisa eling  untuk mau dan berani berproses menuju yang lebih baik....Ow ya, saya menulis hal-hal diatas bukan berarti saya meligitimasi diri saya bahwa sudah punya kecerdasan emosional dalam ber-social media atau dewasa dalam memandang demokrasi dan kebebasan berbicara... TIIDDAAKK...!! saya akui kadang masih labil dalam topik ini (atau bahkan dalam hal lainnya) Mungkin karena saya sedang eling saat ini dan mengajak smua untuk eling juga... agar bisa saling ngelingke...


Tidak ada komentar: